Puisi Menggugat
Monday, September 10, 2007
c.o.b.l.o.s. a.k.u.
akhirnya:
...
--ruangimaji--
hadiqah thifl-maqram abed
Cairo, 09 September 2007
aku melihat banyak pamflet di pinggir-pinggir jalan, di tiang-tiang listrik, di dinding-dinding pembatas bangunan proyek, di pohon-pohon, di depan wc-wc umum, di terminal, di kantor-kantor pemerintah, di sekolah-sekolah, di lokalisasi-lokalisasi, bahkan di pintu rumah-rumah bordil.
aku melihat banyak pamflet bergambar wajah betina berseragam merah, juga bergambar paku bertuliskan "COBLOS AKU" tepat di dadanya. Aku melihat banyak pamflet bergambar wajah jantan, berseragam warna pelangi "mejikuhibiniu"; merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, juga bergambar lambang-lambang, entah perlambangan jelas atau samar, yang bertuliskan "PILIH AKU" pada setiap simbol-simbol itu.
akhirnya:
aku melihat banyak kaos bertuliskan "COBLOS AKU" dipakai perempuan-perempuan di pojok-pojok bangunan pada pekat malam seolah menawarkan, maka datanglah lelaki-lelaki yang juga berkaos pamflet bertuliskan "AKU PILIHANMU", menerima tawaran.
demikianlah, aku melihat banyak pamflet bersimbol bertebaran tanpa mengenal batas ruang
...
--ruangimaji--
hadiqah thifl-maqram abed
Cairo, 09 September 2007
posted by Falahuddin Qudsi @ 6:17 AM,
2 Comments:
- At September 22, 2007 at 1:23 AM, fuddyduddy said...
-
Waktu kamu membacakannya di hadiqah tempo hari, bulu kudukku merinding bro. Antara ekspresi dan kata yang keluar dari mulutmu PAS SEKALI.
- At September 26, 2007 at 10:56 AM, -Filantropy- said...
-
Benar, aku juga merasakannya, Ghi'. Memang luar biasa, Akang yang satu ini. Salut deh, pokoknya! =D>
"Jangan bungkam suara kritis." Kalimat yang menarik sekali tuk kita cermati, lebih dalam lagi. So what...?! :)

